Jumat, 09 Desember 2016

Iseng-iseng yang Beromset Miliaran

Sudah pernah mencicipi aneka pie yang lezat dari Klapper Pie? Yah, kelezatan kue pie ini membuat sang owner, pasangan suami-istri Ridwan Wiyono (33) dan Keri Herlina (36) bisa mengantongi omset Rp 6 miliar per tahun.
Kehadiran Klapper Pie di tengah perkembangan bisnis kuliner di Kota Bertuah, ternyata berawal dari keisengan. Hobi memasak sang istri menjadi cikal-bakal berdirinya Klapper Pie ini pada 2012 silam.
Cemilan rumahan yang awalnya hanya dikonsumsi mereka di rumah, disulap menjadi cemilan semua orang di Pekanbaru. Keahlian memasak sang istri menjadikan makanan ini beda dari makanan lainnya di Pekanbaru.
Ceritanya, awal 2012, sang istri mulai membuat Pie di rumah untuk cemilan keluarga. Suatu ketika Ridwan menyadari bahwa kue Pie yang dibuat sang istri memiliki potensi bisnis yang besar. Ditambah lagi pada saat itu usaha minimarket yang sedang dirintisnya belum menunjukkan potensi menjanjikan ke depannya.
Iya, apalagi pada saat itu bermunculan minimarket-minimarket baru, sehingga usaha minimarket tersebut sepertinya mulai tenggelam,” cerita Ridwan.
Kue-kue Pie hasil kreasi istrinya kemudian dia foto lantas diunggah kejejaring sosial seperti facebook. Responnya ternyata cukup baik. Banyak yang mulai bertanya-tanya.
Dari situ mereka lantas memutuskan membuat usaha kuliner rumahan dengan menjadikan Pie sebagai produk andalan. Awalnya, Pie diproduksi secara made by order atau berdasarkan pesanan yang datang.
Teknik promosi yang dilakukan pun cuma melalui layanan Blackberry Messanger (BBM). Misalnya, jika hari ini mereka mendapat pesanan 25 Pie dan ternyata hasil adonannya menjadi 35 Pie, maka sisa yang sepuluh Pie tersebut akan dipromosikan melalui BBM. Saat itu mereka memiliki 4000 kontak BBM.
Tidak cukup dengan hanya sistem made by order, berikutnya mereka memutuskan untuk berjualan secara outdoor. Antara lain di samping Taman Makam Pahlawan Kusuma Dharma, Mesjid Agung An-Nur, kawasan Panam dan Rumbai, juga di kegiatan Car Free Day setiap minggu pagi.
Hanya bermodalkan sebuah meja, kotak-kotak kemasan Pie diletakkan di atasnya hanya untuk menarik perhatian orang yang lewat. Terkadang cuaca menjadi kendala jika berjualan secara outdoor.
Perlahan, usaha Pie ini mulai mendapatkan perhatian, khsususnya dari masyarakat Pekanbaru. Mungkin, saat itu belum ada orang yang menjual makanan seperti itu di Pekanbaru, sehingga memunculkan rasa penasaran.
Pesan-pesan BBM yang bergulir dari satu ke yang lainnya, membuat masyarakat makin mengenal Pie buatan Keri. Setiap hari pesanan dari konsumen selalu datang. Sampai pada akhirnya mereka membuka outlet di Jalan Hangtuah yang saat itu hanya memproduksi 200- 300 pie. Bahkan menjelang tengah hari outlet mereka sudah tutup.
Untuk menarik perhatian pelanggan, outlet mereka di Jalan Sumatera didesain semenarik mungkin. Sentuhan modern disertai furniture-furniture kayu dengan tampilan wallpaper yang unik ditambahkan supaya pelanggan yang datang merasa nyaman.
Soal omset, Ridwan mengatakan selama enam bulan terakhir ini, pemasukan mereka meningkat setiap bulannya. Saat ini omset mereka sudah menyentuh angka Rp 6 miliar dalam setahun.(heny)

Kamis, 08 Desember 2016

Riau Kini Punya 3 Taman Nasional, Ini Keunikannya!

Provinsi Riau saat ini memiliki 3 buah taman nasional, setelah suaka margasatwa Zamrud berubah menjadi Taman Nasional Zamrud beberapa waktu lalu. Selain Taman Nasional Zamrud di Siak, Riau sudah lebih dulu memiliki Taman Nasional Bukit Tiga Puluh dan Taman Nasional Tesso Nilo.
Ketiga taman nasional ini masing-masing memiliki karakteristik dan keunikan yang berbeda. Baik sebagai kawasan konservasi, edukasi, maupun rekreasi.
Tripriau.com yang berkesempatan mengunjungi ketiga Taman Nasional tersebut mencoba merangkum keunikan masing-masing taman nasional ini:
1. Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Bagi para pecinta petualangan, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh yang berada di Kabupaten Indragiri Hulu menjadi salah satu destinasi wajib untuk didatangi. Taman nasional ini menawarkan banyak keseruan. Mulai dari jungle trekking, susur sungai, hingga menikmati atraksi kebudayaan Suku Talang Mamak.
Bukit Tiga Puluh terkenal dengan kekayaan flora dan faunanya. Beberapa jenis fauna masih bisa kita jumpai di kawasan ini. Mulai dari Harimau Sumatera, Beruang Madu, Tapir, Siamang, Rusa, Babi Hutan, Burung Rangkong, Kuaw, dan aneka satwa lainnya.
Sedangkan jenis flora langka yang diduga endemik di kawasan ini adalah Cendawan Muka Rimau (Raflesia haseltii) dan Salo (Johannes tesmania altrifons). Tidak kurang dari 1500 jenis tumbuhan terdapat di kawasan ini. Didominasi oleh tumbuhan seperti Terap, Kepinis dan Meranti.
Di kawasan ini juga tumbuh Bunga Bangkai (Amorphophallus) yang banyak ditemukan di daerah penyangga TNBT. Bila beruntung, kita bisa menyaksikan bunga ini mekar dengan ketinggian mencapai 3 meter dengan ciri berwarna loreng hitam kecoklatan dan hijau tua.
Selain merupakan habitat flora dan fauna langka dan dilindungi, kawasan TNBT  juga merupakan tempat hidup dan bermukim beberapa komunitas suku pedalaman seperti, Suku Talang Mamak, Suku Kubu (Anak Rimba) dan Suku Melayu Tua. Menjadikan kawasan ini sangat menarik untuk dijelajahi.
Bukit Tigapuluh adalah Hutan Lindung yang telah diubah fungsi menjadi taman nasional pada tahun 1995. Bukit Tiga Puluh merupakan hamparan perbukitan yang terpisah dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan yang terdapat di perbatasan Provinsi Riau dan Jambi.
Secara administratif, bukit ini terletak pada 2 wilayah propinsi, yakni Provinsi Riau dan Provinsi Jambi.
Di Provinsi Jambi terletak di Kabupaten Tebo (10.000 ha). Sedangkan di wilayah Provinsi Riau terletak di Kabupaten Indragiri Hilir (seluas 30.000 ha). Paling luas berada di Kabupaten Indragiri Hulu, yakni 81.223 ha.
2. Taman Nasional Tesso Nilo
Taman nasional ini diresmikan pada 19 Juli 2004 dan mempunyai luas sebesar 38.576 hektare.
Beragam pepohonan masih terjaga di kawasan ini. Mulai dari Medang, Darah Darah, Terpis, Trempinis, Rengas, Pagar Pagar, Mandarahan, Pelawan, Meranti Rambai, Kempas, Kayu Putih, Belimbing Hutan, Mempening, Meranti Kunyit, Lalan, Redan, Silup, Jangkang, Kenari Hutan, hingga Gaharu.
Kawasan yang masuk wilayah taman nasional ini adalah kawasan bekas Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang terletak di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu. Hingga kini di sekelilingnya masih terdapat kawasan HPH.
Terdapat 360 jenis flora yang tergolong dalam 165 marga dan 57 suku, 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia di setiap hektare Taman Nasional Tesso Nilo.
Tesso Nillo juga adalah salah satu sisa hutan dataran rendah yang menjadi tempat tinggal 60-80 ekor gajah dan merupakan kawasan konservasi gajah.
3. Taman Nasional Zamrud
Taman Nasional Zamrud sebelumnya bernama Danau Zamrud berjarak sekira 180 kilometer dari Kota Pekanbaru.
Taman Nasional Zamrud sebelumnya merupakan area konsensi Caltex Pacific Indonesia (CPI) yang kemudian dikelola oleh Bumi Siak Pusako dan Pertamina Hulu.
Di kawasan ini terdapat dua danau unik yakni Danau Pulau Besar (2.416 ha) dan Danau Bawah (360 ha).
Di kawasan ini juga bisa ditemukan Burung Serindit (Loriculus galgulus), yang menjadi ikon Provinsi Riau juga dapat ditemukan di kawasan ini.
Uniknya lagi, pada saat sore hari ketika matahari mulai terbenam para penghuni kawasan Zamrud seperti burung elang, kera, dan harimau mulai menampakkan diri satu persatu.
Tak hanya itu, kawasan yang juga didominasi oleh tumbuhan rawa seperti bengku, rengas dan pisang-pisang itu juga menyimpan keanekaragaman satwa yang tinggi.
Menurut data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau ada 38 jenis burung yang 12 diantaranya dilindungi seperti Bangau Putih, Enggang Palung, Enggang Benguk, Enggang Dua Warna, dan Enggang Ekor Hitam.
Terdapat pula empat jenis primata dan sembilan jenis mamalia. Jenis primata yang dilindungi hanya satu yaitu Siamang sedangkan jenis mamalia yang dilindungi ada tiga yaitu Harimau Loreng Sumatera, Beruang Madu, dan Kucing Hutan.
Di dalam danau ada 14 jenis ikan, delapan di antaranya memiliki nilai ekonomi penting yaitu Sipimping, Selais, Kayangan, Tapah, Baung, Tomang, Balido, dan Gelang.
Danau Pulau Besar dinamai sesuai dengan lokasinya karena di danau tersebut terdapat empat pulau yang terbentuk dari endapan lumpur dan tumbuh-tumbuhan.
Empat pulau tersebut merupakan pulau hanyut karena dapat berpindah tempat, terdiri atas Pulau Besar (sekitar 10 ha), Pulau Tengah (satu hektare), Pulau Bungsu (satu hektare) dan Pulau Beruk (dua hektare) karena banyak terdapat Beruk (kera tidak berekor) di dalamnya.
Di sekeliling danau terdapat vegetasi langka jenis pinang merah (berbeda dengan tanaman hias pinang merah yang ada, karena warnanya lebih cerah) tumbuhan khas tepian danau itu yang tidak dapat tumbuh di daerah lain.
Aneka ragam vegetasi alami yang ada di sekeliling danau serta sungai dan dalam kawasan hutan rawa gambut itu dapat dijumpai dalam kondisi utuh.

Lagi di Pekanbaru? Jangan Lupa Berburu Oleh-oleh di Mega Rasa

Pengunjung berbelanja di pusat oleh-oleh khas Riau Mega Rasa.
Rasanya tak lengkap berkunjung ke sebuah kota tanpa membawa pulang oleh-oleh. Nah, bila sedang berada di Pekanbaru, Anda bisa memilih berburu oleh-oleh di Mega Rasa.
Mega Rasa merupakan salah satu pusat oleh-oleh terbesar dan terlengkap di Pekanbaru.
Lokasinya sangat strategis, berada di Jalan Sudirman. Satu arah bila Anda menuju Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim dari pusat kota. 
Pancake Durian, Bolu Kemojo, dan Lempuk Durian menjadi oleh-oleh paling diburu di sini.
Di Mega Rasa, Anda juga bisa membeli beragam oleh-oleh khas Riau lainnya.
Ada beragam varian kopi dengan brand Riau Roster, keripik ubi ungu, durian chips, keripik nangka, kue bangkit, kacang pukul, abon ikan patin, keripik kelapa jahe, dan masih banyak makanan khas Riau lainnya.
''Selain itu juga ada produk seperti souvenir, cinderamata, dan kaos khas Riau," kata Danny, Terang Manajer Mega Rasa, Selasa (5/4).
Produk oleh-oleh di Mega Rasa
Tak hanya oleh-oleh khas Riau, di Mega Rasa pengunjung juga bisa menemukan produk makanan dari luar Riau. Seperti rendang kemasan dari Padang, coklat Belgia, hingga aneka makanan impor dari Malaysia. 
Pancake durian nan lezat di sini dibanderol dengan harga Rp 90 ribu dengan isi 10 biji dan Rp 9 ribu untuk pancake satuan. 
Sementara Kemojo harga satuannya Rp 15 ribu. ''Yang mini isi 12 biji Rp 26 ribu. Ada rasa pandan, durian, coklat, dan jagung,'' kata salah satu staf Megarasa.
"Untuk Lempuk Durian harganya mulai dari Rp 14 ribu sampai Rp 50. Ada yang batang dan ada juga bungkus daun pelepah pinang dan kotak," sebutnya.
Saat ini beragam oleh-oleh di Mega Rasa juga bisa dibeli secara online melalui situs resminya www.megarasa.co.id.
''Kalau yang mau dari luar kota, bisa kita kirim. Website dan toko harganya sama. Untuk ongkos kirim ditanggung pembeli," kata Danny.
Mega Rasa sendiri beralamat di Jalan Sudirman, nomor 397. Berdekatan dengan hotel Pangeran.



Pakai Jasa Gerobak Sayur, Beli Kebutuhan Harian Tak Perlu Ke Pasar

Tidak semua orang suka belanja ke pasar tradisional. Tidak punya waktu hingga kondisi pasar tradisional yang kumuh dan becek menjadi alasan. Kondisi seperti ini mayoritas dialami ibu-ibu muda.
Peluang ini dibaca oleh Fadli Yusra, dengan mendirikan sebuah bisnis rintisan bernama Gerobak Sayur. Konsep bisnisnya yakni menjadi distributor dari semua barang yang diinginkan konsumen yang tersedia di pasar tradisional. Mulai dari lauk-pauk, sayur-mayur, rempah-rempah, buah-buahan, dan segala macamnya.
‘’Dari berbagai seminar dan workshop bisnis yang kita ikuti, intinya adalah memberikan solusi apa yang orang butuhkan,’’ katanya.
Melalui bisnisnya ini, Fadli ingin memudahkan masyarakat yang ingin berbelanja kebutuhan namun malas menginjakkan kaki ke pasar. Layaknya gerobak sayur yang biasa berjualan keliling perumahan menjajakan beragam kebutuhan harian, Gerobak Sayur ala Fadli pun sama.
Bedanya, di Gerobak Sayur Fadli ini pelanggan cukup memesan jenis barang yang dibutuhkan. Selanjutnya dia akan mencarikan ke pasar dan mengantarkan pesanan langsung ke rumah pelanggan. Sementara pembayarannya menerapkan sistem Cash on Delivery (CoD)
Menurut pengamatan sederhananya, Fadli menyampaikan, banyak ibu-ibu muda terutama yang punya anak malas ke pasar. Inilah yang menjadi target pasarnya.
‘’Selain itu pasar kan juga becek. Apalagi era sekarang orang serba online. Banyak juga orang-orang yang baru pindah ke Pekanbaru tidak tahu dengan pasar, terus pake jasa kita,’’ ujarnya.
Sejak meluncur September tahun lalu, sudah banyak masyarakat yang memanfaatkan jasa Gerobak Sayur ini. Lebih kurang 50 persen dari pangsa pasarnya dikuasai oleh segmen Tionghoa.
Untuk melayani berbagai permintaan dan kebutuhan konsumen, Fadli memanfaatkan tiga pasar besar yang ada di Pekanbaru. Yakni Pasar Pusat, Pasar Kodim, dan Pasar Bawah atau Sago. Dari ketiga pasar inilah berbagai kebutuhan pelanggannya dipasok.
Bila barang yang diminta tidak tersedia di ketiga pasar ini, dia akan mencari ke pasar lain ataupun pasar modern. ‘’Tapi kita akan tanyakan lagi ke konsumen, mau tidak, karena biasanya harganya jadi lebih tinggi (pasar modern),’’ jelasnya.
Antara Fadli dan pembeli biasanya akan berkirim foto produk yang diinginkan melalui aplikasi pesan instant seperti WhattsApp dan Line. Ini untuk memastikan, apa yang dibelinya sesuai dengan keinginan konsumen.
Salah satu keunggulan dari bisnis jasa yang dikelola Fadli adalah kualitas produk. Untuk lauk-pauk dan sayur-mayur misalnya, dia akan memilih yang paling segar.
Selain itu, barang-barang yang habis dibeli di pasar tidak langsung diantar ke pelanggan. Namun, terlebih dahulu dibawa pulang dan dikemas dengan rapi dan menarik. Untuk pesanan berupa ikan misalnya, sudah dibersihkan dan dipotong-potong terlebih dahulu. ‘’Mereka (pelanggan) tinggal masak. Jadi, kita benar-benar ngasih servis,’’ ujarnya.
Cara memanfaatkan jasa layanan Gerobak Sayur cukup mudah. Pelanggan tinggal pesan melalui perangkat digital. Batas akhir pemesanan yakni jam 9 malam. Pesanan akan diantar dari pagi hingga jam 11. Tiap pengiriman dikenakan ongkos kirim antara Rp 5.000 hingga Rp 20.000, tergantung jaraknya.
Selama ini Fadli melayani jasa untuk warga Pekanbaru dan sekitarnya. ‘’Tapi, beberapa kali sampai juga ke Kampar,’’ katanya.
Gerobak Sayur bisa ditemukan di social media Instagram dengan akun: @gerobaksayur_pku dan Line: @hpu9086b

Bajai, Moda Transportasi yang Mulai Tersisihkan


Suara mesin Bajai Supangat (56) memecah keheningan. Dari rumahnya, dia menyusuri jalanan Pekanbaru menuju Pasar Bawah di ujung Jalan Ahmad Yani. Supangat membawa satu-satunya Bajai miliknya yang masih tersisa. Seakan berkejaran dengan matahari yang mulai naik, Supangat mengejar para pelanggan Bajai-nya di kawasan pasar wisata ini.
Sehabis menunaikan sholat subuh, Supangat mulai memanaskan mesin Bajai miliknya, bersiap-siap meluncurkan kendaraan roda tiga ini kejalanan. Sudah 34 tahun lamanya dia menghabiskan waktu menjadi penarik Bajai.
Pada masa jayanya, dia memiliki Bajai hingga 6 unit. Delapan anaknya pun berhasil duduk dibangku sekolah berkat Bajai. Sekarang, Bajai yang tersisa tinggal satu unit saja. Subuh hingga ke malam Supangat mengitari kota Pekanbaru bersama Bajai tersebut.
Menelusuri jalanan ibukota yang masih sepi di subuh hari, dia mengarahkan Bajai-nya menuju Pasar bawah. Di sana, bersama beberapa penarik Bajai lainnya Supangat menanti penumpang.
Pepatah ‘’bangun siang rejeki dipatok ayam’’ ada benarnya bagi penarik Bajai ini. Sebab, pengguna Bajai saat ini tinggallah para ibu-ibu yang berbelanja harian di pagi hari di Pasar Bawah.
Supangat dan penarik Bajai lainnya harus pintar-pintar menarik hati calon penumpang. Berbagai ‘pelayanan tambahan’ mereka tawarkan.Termasuk memanggul belanjaan para penumpang mereka.
Selama ini, Supangat sudah memiliki beberapa penumpang langganan. Saat dia melihat penumpang langganannya keluar pasar dengan berbagai jinjingan, dengan sigap Supangat langsung menyongsong dan membawakan belanjaan tersebut.
“Ya, kita mesti punya strategi,mbak.Biar penumpangnya balik lagi pakai Bajai kita,” ujar Supangatramah.
Tawar-menawar harga menjadi salah satu seni naik Bajai. Supir Bajai dan calon penumpang akan melakukan proses tawar-menawar sebelum naik Bajai. Ketika kesepakatan harga telah dicapai, barulah penumpang masuk dan supir menghidupkan mesin Bajai-nya.
Bajai-bajai ini melayani rute dalam kota Pekanbaru. Untuk sekali jalan dalam jarak dekat, biasanya harga dipatok antara Rp 15-20 ribu. Tergantung seberapa mahir Anda melakukan tawar menawar.
Sedangkan untuk daerah yang lebih jauh, tarif yang diletakkan akan lebih tinggi.
Penasaran dengan bagaimana rasanya menaiki Bajai di jalanan Pekanbaru, sayapun mencobanya. Mengambil rute Jalan Teuku Umar menuju Pasar Bawah, saya melakukan proses tawar-menawar terlebih dahulu. Setelah deal, si supirpun membukakan pintu Bajai untuk saya.
Bunyi mesin Bajai yang khas langsung menyerbu telinga ketika mesin baru dinyalakan. Bajai kami mulai berjalan melewati gang-gang kecil di Jalan Teuku Umar.
Untuk sesaat saya tidak mengenal jalan yang kami lalui, hingga akhirnya kami keluar di Jalan Sudirman, tak berapa jauh dari Pasar Bawah.
Tak sampai 15 menit, kami sudah sampai di Pasar Bawah tanpa terkena macet sedikitpun. Padahal saat itu adalah jamnya para orang kantoran memadati jalan.
Ternyata, selain harga yang bersahabat dengan kapasitas 2-3 orang penumpang, Bajai juga terkenal dengan keahliannya menyelip di antara gang-gang kecil.
Untuk mencapai alamat yang dituju, para supir Bajai mengandalkan ‘jalan tikus’ untuk menghindari macet dan menghemat waktu.
Tergerus Modernisasi
Saat ini, Bajai yang sudah ada di Riau sejak tahun 1982 silam ini mulai terlupakan oleh masyarakat. Tak banyak lagi yang mau menggunakan jasa angkutan satu ini.Bahkan anak-anak muda banyak yang tidak tahu adaBajai di Pekanbaru.
Hadirnya angkutan umum yang lebih modern dan murah membuat penumpang memilih untuk beralih. Belum lagi, masyarakat kota ini juga banyak yang memilih menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini tentunya sangat berdampak terhadap eksistensi Bajai.
Hingga saat ini, Bajai yang beroperasi hanya tersisa sekitar 20an unit dari total 74 unit.
Bubarnya persatuan Bajai di Riau dan tidak adanya pembaharuan armada semakin memperburuk keadaan Bajai di Riau. Angka ini bisa jadi akan terus berkurang, bahkan menghilang.
Untuk saat ini, para penarik Bajai hanya bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 150 ribu sehari.
“Paling kenceng dapatnya Rp 150 ribu sehari, mbak.Itu pun kalau berangkatnya pagi-pagi ngejar ibu-ibu (keturunan) Cina selesai belanja. Kalau mangkalnya agak siang, ya calon penumpangnya udah sepi,” Ungkap aku Supangat. 
Supangat mengatakan, penumpang yang masih sering menggunakan Bajai adalah perempuan-perempuandari etnis Tionghoa yang berbelanja kebutuhan dapur di Pasar Bawah. Mereka berbelanja pagi-pagi, untuk kebutuhan memasak.
“Kalo gak ada (ibu-ibu) Cina, gak bakal ada yang naik bajai,” pungkasnya.

Denyut Nadi Para Penjual Sayur

Penjual sayur di Jalan Kertama, Pekanbaru
Seorang perempuan muda terlihat menghampiri sebuah lapak sayur. Setelah mengambil beberapa ikat sayur dan sebiji buah nenas segar, dia membayar semua belanjaannya. Transaksi berakhir saat sang pedagang menyerahkan pecahan uang ribuan sebagai kembalian.
Pemandangan itu terjadi di sentra sayur-mayur yang terletak di Jalan Kertama, Marpoyan Damai, Pekanbaru.
Di kawasan ini, selain kebun sayur-mayur yang cukup luas, belakangan juga tumbuh lapak-lapak penjual sayur. Mereka mendirikan lapak-lapak dipinggir jalan bermodalkan penyangga kayu, atap terpal, dan meja-meja dari kayu bekas.  
Beragam sayur-mayur dijual di lapak-lapak ini. Seperti kangkung, bayam, selada, pepaya, jagung, kacang panjang, petai, talas, hingga keladi.
Semua sayur-mayur ini dipasok dari kebun-kebun yang bertebaran di kawasan ini. Kecuali beberapa komoditas seperti Ubi Ungu yang mesti dipasok dari Sumatera Barat.
Saat sore tiba, kawasan ini makin ramai. Para pekerja yang kebetulan melintasi jalan ini banyak yang singgah membeli sayur-mayur. Saat sore pula, sebuah sungai kecil didekat lapak dipenuhi orang-orang yang mencuci sayur.
Hutasoit (36), salah satu pedagang menuturkan, kawasan ini sudah mulai ramai tiga tahun terakhir. Sebagian besar pedagang disebutnya merupakan warga yang berdomisili di sekitar kawasan.
Transaksi sayur
Perantau asal Tarutung, Sumatera Utara ini mengaku tiap hari membuka lapaknya mulai jam 7 pagi dan baru tutup pukul 10 malam. Sayur-mayurnya dipasok dari berbagai tempat. ‘’Yang paling banyak ya dari kebun-kebun di sekitar sini,’’ ucapnya.
Hutasoit datang ke Pekanbaru pada tahun 1998. Dulunya dia bekerja sebagai operator alat berat. Dia sempat juga bekerja di Kalimantan saat illegal logging mulai marak.
Ketika pelaku pembalakan liar mulai terjepit, dia memutuskan balik ke Pekanbaru dan ikut istrinya yang berjualan sayur. 
Sehari, dia mengaku bisa mengantongi omset Rp 700-800 ribu rupiah. ‘’Omset rata-rata tiap hari sekitar Rp 700 sampai 800 ribu. Pembeli kita selain orang-orang yang lewat, juga banyak langganan. Kalau sayur tidak laku terjual, ya terpaksa kita buang. Namanya resiko berjualan,’’ katanya dengan logat Batak yang kental.
Sayur-mayur yang dihasilkan di kawasan ini cukup besar. Banyak kebutuhan sayur-mayur di pasar-pasar tradisional di Pekanbaru dipasok dari sini. Seperti Pasar Pagi Arengka, Pasar Kodim dan lainnya.

Geliat “Tanaman Surga” di Sungai Tohor


 
Tahun 1980-an tanaman sagu mulai menggeliat di Desa Sungai Tohor, Tebing Tinggi Timur, Kepulauan Meranti, Riau. Namun, jauh sebelum itu, saat Indonesia belum memproklamirkan kemerdekannya, masyarakat Sungai Tohor sudah mengenal sagu.
Di masa itu, masyarakat Sungai Tohor menjadikan sagu sebagai makanan pokok. Sejak tokoh-tokoh desa menggalakkan menanam sagu ketika itu, sekarang hampir 98 persen masyarakat Sungai Tohor menggantungkan hidup dari sagu.
Dulu, cuma ada 5 kilang sagu di desa yang bisa ditempuh selama 45 menit dari Selat Panjang tersebut.
Saat ini, sudah ada 14 kilang berdiri di sana. Dari kilang-kilang itu, bisa menghasilkan sagu sebanyak 400-600 ton per bulan. Jika dirupiahkan, bisa mencapai 740 juta sampai 1,1 miliar per bulan.
Sebelum tahun 1980-an, sagu seakan tak punya harga di sana. Perkilo cuma dihargai 25 hingga 40 rupiah. Baru setelah era reformasi, harga sagu perlahan merangkak naik. Sekitar 125 hingga 300 rupiah per kilogram. Saat ini, sagu basah dihargai 1.850 rupiah per kilogramnya.
Tokoh masyarakat Sungai Tohor Abdul Manan menceritakan, pada 1980-an itu masyarakat sudah bertani sagu. Namun, masih menggunakan sistem ijon.

Melalui sistem ini, petani meminjam uang terlebih dahulu kepada toke sagu dengan menjaminkan pokok-pokok sagu yang masih muda milik masyarakat. Dengan kata lain, sagu yang masih muda milik masyarakat yang belum dipanen, sudah dijual terlebih dahulu.
Sistem ijon tersebut sangat merugikan masyarakat. Sebab, batang sagu dijualsebelum layak jual. Melihat kerugian yang besar akibat sistem ini, salah seorang tokoh masyarakat mencoba untuk memutus rantai ijon pada tahun 1989.
Caranya, dengan mendirikan kilang-kilang sagu tradisional milik masyarakat. Terutama, setelah mendapat bantuan dari presiden berupa mesin sagu yang dimodifikasi seperti kilang-kilang sagu yang ada pada saat ini.
Masyarakat Sungai Tohor sangat antusias dengan pertanian sagu, “Mulai dari nenek moyang kami, bahwasannya kami telah menjagakan gambut dengan kearifan lokal, tidak pernah terjadi kebakaran pada zaman dulu,” sebut Abdul Manan.
Meskipun pada zaman dahulumasyarakat membuka lahan dengan cara membakar, tapi gambut tidak pernah dalam kondisi kering. Pada tahun 1990-an masyarakat mencoba merubah sistem pertanian mereka,
“Tidak menggunakan sistem bakar lahan untuk menanam sagu, hanya dengan membersihkan 5 meter dilahan pertanian, dan tetap mempertahankan kayu alam,’’ kata Abdul Manan melanjutkan.
Sekarang, masyarakat Sungai Tohor sangat antusias dengan pemulihan gambut. Pasalnya, pada 2014 pernah terjadi kebakaran hebat di Sungai Tohor.
“Kebakaran itu disebabkan kanalisasi oleh salah satu perusahaan pada tahun 2009.Masyarakat sangat menolak kehadiran perusahaan tersebut,’’ jelas Abdul Manan kepada tripriau.com saat berkunjung ke Sungai Tohor beberapa waktu lalu.
Masyarakat menduga, bahwa kebakaran di Sungai Tohor akibat kanalisasi “Intinya gambut itu tidak boleh dibuka dengan kanalisasi, apabila terjadi kanalisasi kebakaran tidak dapat dielakkan, karena gambut menjadi kering,’’ tambahnya.
Dia menambahkan, apabila sagu subur, lahan gambut tidak akan terbakar. Sebab, sagu adalah aset terbesar masyarakat. ‘’Jika terjadi kebakaran,maka ekonomi masyarakat Sungai Tohor akan lumpuh total,’’ sebutnya.